
Hari Raya Idhul Adha baru saja berlalu. Idhul Adha biasa juga disebut
sebagai Hari Raya Kurban, karena di saat itu umat Islam menjalankan
salah satu perintahNya untuk melakukan penyembelihan hewan kurban.
Kurban sendiri berawal dari perintah Allah SWT kepada Nabi Ibrahim AS
untuk membuktikan ketakwaannya dengan menyembelih Nabi Ismail AS, putra
yang telah lama ditunggu-tunggu kelahirannya. Ibrahim berhasil
membuktikan ketakwaannya dan Allah pun mengganti Ismail dengan seekor
domba. Luluslah Ibrahim AS dan Ismail AS dari ujianNya.
Berawal dari peristiwa itulah, umat Islam disunahkan untuk melakukan
kurban. Mungkin bagi sebagian kalangan ibadah kurban dianggap
memberatkan, karena mereka harus menyiapkan dana yang cukup besar untuk
dapat membeli hewan kurban. Namun dengan keikhlasan, bahkan banyak orang
tergolong tidak mampu, berlomba-lomba menabung sehingga pada saat Idhul
Adha mereka dapat ikut melaksanakan ibadah kurban.
Banyak dimensi dari kurban
yang dapat kita petik hikmahnya selain dimensi keikhlasan, dimensi
sosial salah satunya. Dari sisi sosial, ibadah kurban bukan hanya
sekedar proses menyembelih hewan kurban dan membagikannya kepada yang
berhak saja, lebih dari itu, ibadah kurban dapat mempererat silaturahmi
antara golongan mampu, yang berkurban, dengan mereka yang tidak mampu,
mereka yang menerima kurban.
Sebagaimana kurban, yang merupakan perintah dan ibadah kepada Allah,
membayar pajak pun sesungguhnya juga merupakan salah satu bentuk ibadah
kepada Allah. Keduanya sama-sama memberikan manfaat kepada masyarakat
terutama mereka yang miskin. Bahkan dapat dikatakan dalam banyak hal
pajak merupakan bentuk aktualisasi strategis dari perintah Allah untuk
melakukan sedekah, zakat, maupun kurban. Membayar pajak pun membutuhkan
keikhlasan dalam melakukannya, sehingga tak lagi dirasa berat.
Setelah uang pajak terkumpul, negara akan memanfaatkan
uang pajak untuk membiayai pembangunan, Dengan semakin banyak rakyat
yang membayar pajak dengan benar, semakin banyak uang yang dimanfaatkan
untuk pembangunan.
Selain sebagai sumber pendapatan negara, pajak juga berfungsi untuk mewujudkan keadilan sosial, yaitu dengan cara melakukan distribusi
kesejahteraan. Hal ini dilaksanakan dengan menerapkan tarif pajak
secara progresif, yaitu mengenakan pajak dengan tarif lebih tinggi bagi
masyarakat yang berpenghasilan besar dan membebaskan pajak bagi yang
kurang mampu.
Setelah sadar bahwa pajak juga merupakan salah satu ibadah pada Allah, maka kita pun akan dengan ikhlas
membayar pajak. Terlebih dengan kesadaran bahwa membayar pajak pun
merupakan salah satu pengejawantahan dari sabda Nabi Muhammad SAW,
“sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi manusia yang
lain”, niscaya membayar pajak tidak lagi memberatkan. Mari sempurnakan
ibadah kurban kita dengan membayar pajak secara benar. Selamat Hari Raya
Idhul Adha.
Posting Komentar